Candi Gedong Songo, Sejarah Candi Mataram Kuno di Semarang

Candi Gedong Songo, Sejarah Candi Mataram Kuno di Semarang

Posted on

Obyek Wisata Candi Gedong Songo Semarang

Bagi Anda yang menggemari wisata sejarah, entah mengunjungi museum, mendatangi bangunan cagar sejarah, menapak tilas peristiwa masa lalu di kota Semarang, kiranya perlu Anda pertimbangkan mengunjungi Candi Gedong Songo. Mengunjungi candi merupakan bagian dari wisata yang penuh arti.

Candi Gedong Songo, Sejarah Candi Mataram Kuno di Semarang

Sebagai bagian menarik dalam wisata Semarang, mengunjungi candi di Ungaran ini ibarat memberi topping pada sebentuk kue. Perjalanan Anda di Semarang telah sempurna. Setelah menyaksikan hasil modernisasi kota, setelah menikmati kuliner yang khas, mengunjungi tempat-tempat eksotis, kini Anda mengunjungi sisa kejayaan dari Wangsa Syailendra di Nusantara.

 

Sejarah Candi Gedong Songo

Kita sebagai bangsa memiliki akar sejarah yang masih tercatat. Kita tidak tumbuh dari ruang kosong, tidak muncul tiba-tiba sebagai bangsa yang campur-aduk tanpa kebanggaan, serta kemurnian dari masa lampau. Keberadaan Candi ini adalah ibarat bendera yang menyatukan kita dengan masa lalu. Sehingga kita akan memiliki kebanggaan sebagai bangsa berdaulat.

Sejarah Candi Gedong Songo

Mengenai nama, mengapa dinamakan demikian, adalah karena faktanya komplek Candi ini terdiri dari sembilan bangunan. Gedong Songo artinya ‘sembilan bangunan’, sebagaimana perlu diketahui, candi ini adalah candi Hindu. Angka sembilan merupakan angka penting dalam budaya Hindu, sehingga formasi Candi di bentuk dalam suatu kompleks berisikan sembilan bangunan.

 

Pembuatan candi-candi, di mulai dari kedatangan Dinasti Syailendra ke tanah Jawa. Dinasti kerjaan kuno era pra medieval ini berasal atau menjadi bagian dari migrasi dongson dari daratan Indocina (Kamboja) ke Indonesia. Tidak ada catatan lebih mengkonfirmasi asal usul dinasti Syailendra ini, karena ada beberapa catatan berkebalikan di mana dinasti ini juga menguasai wilayah Indochina.

 

Wangsa Syailendra juga menguasai Kerajaan Asoka (sekarang Thailand) melalui beberapa ekpedisi.  Dinasti Syailendra didirikan oleh sosok bernama Bhanu pada tahun 752, kerajaan yang dibangun oleh Bhanu ini menandai lahirnya era Mataram kuno dalam dua periode, periode kekuasaan Syailendra dan periode kekuasaan Sanjaya.

 

Penerus dinasti ini yakni dinasti Sanjaya yang leluhurnya berasal dari Asoka secara kewilayahan tidaklah sedominan dinasti Syailendra. Dinasti Syailendra dikenal lebih progesif serta membentuk karakter kebudayaan Jawa kuno, bahkan peninggalan Syailendra berkesan lebih majestik, megah dibandingkan penerusnya, yakni komplek Candi yang tersebar di seluruh Jawa.

 

Misalkan pada era pemerintahan raja Indra (782-812), wangsa Syailendra melakukan penetrasi pertama ke Sumatera, di mana ikatan dengan pulau Emas itu semakin erat karena perkawinan politik antara putera raja Indra, Samaratungga dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya.

 

Pada tahun 790, wangsa Syailendra menaklukan tanah leluhurnya Chenla (Kamboja), kemudian berkuasa di wilayah leluhurnya serta wilayah Asoka selama beberapa tahun.  Peninggalan terbesar Dinasti Syailendra tentu saja komplek Candi Borobudur yang dibangun dari batu ukir pertama, hingga ukiran relief terakhir pada era raja Samaratungga (812-833).

 

Setelah berakhirnya era Syailendra, berakhir juga kekuasaan Chenia. Penggantinya adalah wangsa yang sebelumnya wangsa Syailendra taklukan, yakni wangsa Sanjaya yang berumpun dari Kerajaan Asoka. Pergantian rezim menandai berakhirnya corak budaya Buddha.

 

Karena Wangsa Sanjaya cenderung menyebarkan ajaran Hindu, sedangkan Wangsa Syailendra menyebarkan agama budha. Berakhir pula candi-candi bercorak Buddha, bergantikan candi bercorak hindu termasuk salah satunya candi bercorak hindu di Selatan Semarang bernama candi Gedong Wongso.

 

Sir Thomas Stanford Raffles pada saat itu Gubernur Hindia Belanda menerima laporan keberadaan Candi pada ini oleh pengikutnya pada 1804. Sir Raffles yang juga seorang ilmuwan botani tertarik mengunjungi komplek candi serta memperkenalkannya pada dunia. Namun pada awalnya candi ini dinamakan Gedong Pitoe oleh Raffles karena baru ditemukan 7 buah candi sejauh pencarian Raffles.

 

Baru pada tahun 1825 saat Hindia Belanda kembali ke tangan Belanda, Van Braam membuat publikasi baru bahwa jumlah Candi ternyata ada sembilan, dilanjutkan pada tahun 1865 Hoopermans dan Friederich menambahkan catatannya tentang komplek Candi ini yang untuk kemudian mengundang perhatian.

 

Sejak tahun 1916 pemerintah Hindia Belanda membuka penelitian resmi pada bangunan candi Gedung Songo, penelitan ini dilakukan Dinas Purbakala Belanda. Kesimpulannya adalah pemugaran pada Candi Gedong 1 dari tahun 1928 hingga 1929 yang dilanjutkan dengan pemugaran pada Candi 2 pada tahun 1930-1932.

 

Setelah era kemerdekaan, pemerintah mulai mengambil alih kerja Belanda dalam restorasi Candi pada tahun 1977 hingga 1983, pada saat itu candi 3, 4 dan 5 dilakukan restorasi oleh SPSP (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala), proses ini berjalan terus hingga tahun 2009, tempat ini akhirnya bisa diakses sepenuhnya oleh para trus sebagai bagian wisata Semarang.

 

Fakta-Fakta Menarik Candi Gedong Songo

 

Ada beberapa fakta menarik bagi Anda yang tertarik mengunjungi candi Gedong Songo, di antaranya:

 

  1. Akses Mendaki Penuh Petualangan

Perjalanan dari Semarang menuju Candi Gedong Songo memakan waktu satu jam, setelah tiba wisatawan berjalan menaiki bukit atau menaiki kuda, karena sepeda motor tidak bisa menaiki bukit. Jika Anda tidak membutuhkan kuda, Anda akan berjalan dari bukit ke bukit ke situs candi yang lain. Bagaimanapun, perjalanan menaiki kuda sangatlah menyenangkan, bagai dalam petualangan.

Perjalanan dari Semarang menuju Candi Gedong Songo

  1. Masih Sedikit Turis Mancanegara

Hampir semua turis yang berwisata adalah turis lokal. Pemandu wisata memberi tahu bahwa kunjungan turis asing hanya 2-5 turis per hari. Adapun jumlah turis tidak lebih dari seratus orang per hari yang mengunjungi kompleks Candi terbesar. Kurangnya kunjungan menandakan bahwa situs ini masih perlu banyak pembenahan, agar bisa menarik turis sebanyak-banyaknya.

Turis Wisata candi gedung songo, lokal dan mancanegara

  1. Mirip Dengan Candi Dieng

Terletak di atas puncak bukit yang berhiaskan hutan. Komplek candi ini dibangun di abad ke-8 antara tahun 730 dan 780 SM, yang menjadikannya sebagai salah satu candi Hindu tertua di Jawa.  Salah satu yang tertua, karena Candi ini berbagi usia yang sama dengan Candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng dari sisi bentuk maupun ciri relief.

Candi Gedong Songo Mirip Dengan Candi Dieng

  1. Pemandangan Alam Nan Megah, Bagai Di Atas Awang-awang

Atraksi untuk para wisatawan adalah sebentuk keindahan alam, suasana lengang, membawa inspirasi, di dataran tinggi dengan iklim 19-27 Celcius, sangat sejuk, indah, memberikan nuansa hijau. Selain itu, wisata sejarah melihat kemegahan candi, merasakan kembali spirit bangsa ini untuk menjadi bangsa besar yang setara dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Pemandangan Alam Nan Megah, Candi gedong songo

  1. Dekat Dengan Wahana Wisata Lainnya

Komplek Candi ini dekat dengan tempat wisata lainnya, di antaranya, air mancur Kleting Kuning yang berjarak 2 km, pemandian Umbul Sidomukti yang berjarak 5 km dari lokasi Candi, Goa Maria Kerep, sekitar 8 km, serta Museum Kereta Api Ambarawa yang hanya berjarak 10 km.

Pemandian umbul sidomukti

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka

Mengunjungi komplek candi ini, akan menjadi pengalaman Wisata Semarang Anda bertambah daftarnya. Ditambah pula, kenangan yang bisa Anda dapatkan karena begitu banyak spot yang bagus untuk berfoto selfie. Tebak juga, tidak membutuhkan banyak biaya besar.

 

Biaya untuk memasuki tempat wisata alam ini sangat terjangkau oleh siapapun. Karena Anda hanya akan dikutip Rp. 10,000 perorang. Penyewaan kuda berkisar sekitar Rp. 25.000 hingga Rp. 70.000 tergantung durasi, melalui kuda anda mudah memutari komplek kawasan candi. Adapun jam buka menuju kawasan Candi, dari pukul 06.30-18.00 WIB**