Keindahan Lawang Sewu Semarang

Sejarah Dan Keindahan Lawang Sewu Semarang

Posted on

Sejarah Dan Keindahan Lawang Sewu Semarang – Apa yang tampak dari bangunan peninggalan kolonialis adalah bangunan megah, besar, bercirikan gedung Eropa abad pertengahan yang seolah menjejak kuat di bumi, serta menjulang tinggi ke langit menyelisihi bangunan utama milik seluruh kerajaan lokal di seluruh tanah kolonial. Itulah Lawang Sewu, bangunan megah  yang memikat mata, menyirnakan pesona bangunan lain disekelilingnya.

Saat estetika Barat berpadu dengan kepraktisan agar bisa beradaptasi di Timur, saat suatu bangunan ingin memperlihatkan kemajuan di eranya, akhirnya akan tersisa bagi semua orang sebentuk bangunan bersejarah yang kini menjadi  ikon wisata Semarang.  Selain ikonik, Lawang Sewu tampak menonjol dibanding bangunan lainnya, karena memang lebih indah, sangatlah  indah.

Sejarah Lawang Sewu

Sejarah Lawang Sewu

Bangunan ini ditujukan sebagai sebagai kantor pusat perusahaan kereta api kolonialis, yang uniknya ditangani bukan oleh pemerintah Hindia Belanda, melainkan pihak swasta bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj (NIS). NIS inilah yang pertama kalinya membangun jalur kereta api di Indonesia, dengan jalur kereta yang menghubungkan Semarang, Surakarta dan Yogyakarta.

Lawang Sewu dibangun oleh kolonialis Belanda pada 27 Februari 1904 dan rampung pada tahun 1907. Dirancang oleh arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J.  Quendag asal Amsterdam. Oleh karena itulah bentuk bangunannya mengikuti kemegahan bangunan yang ada di Amsterdam dengan beberapa pengecualian khusus agar dapat beradaptasi dengan iklim tropis di Nusantara.

Lawang Sewu Semarang

Pada era Perang Dunia Kedua, Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Dengan demikian berakhir sudah nasib jawatan NIS di nusantara, semua aset Hindia Belandan menjadi milik militer Jepang. Termasuk gedung Lawang Sewu. Gedung tersebut di jadikan markas militer, untuk kepentingan perang Jepang. Ruang bawah tanah untuk ventilasi dijadikan penjara serta ruang penyiksaan.

Pada pertempuran merebut kemerdekaan, Lawang Sewu berada di titik nol pertempuran, sehingga banyak korban jatuh pada saat Lawang Sewu coba diduduki para pemuda dari tangan Jepang, dalam pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Setelah merdeka, gedung ini sempat dalam manajemen tentara, namun pada akhirnya dikembalikan ke PT KAI sebagai NIS baru.

 

Asal Nama Lawang Sewu

Asal Nama Lawang Sewu

Anda akan melihat sendiri mengapa bangunan ini disebut sebagai Lawang Sewu yang bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya adalah gedung “seribu pintu”. Sewu  artinya seribu dalam bahasa Jawa, sementara lawang artinya pintu atau lubang. Penggambaran rakyat Semarang di era beroperasinya bangunan tersebut sangat akurat.

Karena banyaknya lubang yang dimiliki Lawang Sewu, entah itu lubang pintu, atau lubang jendela. Namun, secara eksak jumlah pintu yang terdapat di bangunan tersebut tidak mencapai seribu,  tepatnya hanya 429 buah lubang pintu. Tentu saja sebutan itu memang berlebihan tetapi sebagai gambaran pembulatan, akan terdengar unik.

Keindahan Lawang Sewu Semarang

Lagipula, Lawang Sewu juga memiliki sekian banyak jendela yang lebar tingginya juga seolah sama dengan pintu. Lebih unik lagi adalah jumlah daun pintunya. Beberapa pintu ada yang memiliki dua daun pintu juga ada yang memiliki 4 daun pintu, terdiri dari 2 daun pintu ayun ditambah 2 daun pintu geser, sehingga total pintu masing-masing bisa sebanyak 1200 daun pintu.

Sejarah Dan Keindahan Lawang Sewu Semarang

Besarnya bangunan menggambarkan perluasan kolonialisme. Artinya, pembuatan bangunan dengan puluhan sekat ruangan dan kantor menggambarkan makin sibuknya pengerukan kekayaan alam nusantara ke luar negeri, wilayah nusantara yang dijajah pun makin meluas, pada awal abad 20, Belanda setidaknya menambah dua target jajahan baru, Sumatera Utara dan Aceh.

Pertanyaannya, mengapa Lawang Sewu membutuhkan pintu sebanyak itu? Jawabannya, karena kepraktisan agar bisa beradaptasi dengan iklim tropis di khatulistiwa, terutama iklim di Semarang yang cukup panas. Sehingga jendela yang lebar dengan pintu yang serba terbuka bisa membentuk ventilasi alami, di mana udara sejuk akan masuk ke dalam gedung.

 

Beberapa Alasan Mengapa Anda Mengunjungi Lawang Sewu

Bukan berarti tidak banyak yang bisa diberikan oleh Kota Semarang pada wisatawan. Namun, jika tidak pernah sedikitpun mengunjungi Lawang Sewu, yang istilah nya sangat instagram-able maka Anda melewatkan waktu yang hebat dalam kunjungan wisata Anda. Lalu apa saja pernik menarik yang ada di Lawang Sewu, yang kiranya akan membawa Anda dalam pengalaman yang seru?

  1. Seni Tinggi Eropa Di Lawang Sewu

Seni Tinggi Eropa Di Lawang Sewu

Pihak kolonialis Belanda memang tidak sedang main-main atau asal membangun, terkait dengan kepentingan mereka di Nusantara. Mereka tidak sekedar membangun suatu kantor belaka. Melainkan mereka membawa serta seni tinggi dan corak kebudayaan-nya. Seni arsitektur bangunan hingga ke detil kecil dalam ruangan diadopsi dari gedung gedung Belanda abad pertengahan.

  1. Bagai Memasuki Istana Eropa

Bagai Memasuki Istana Eropa

Dari pintu, jendela, dudukan bahu untuk para pembersih kaca, ruang bawah tanah sebagai ruang drainase, pintu masuk lorong, pilar, menjadi bagian detil budaya Eropa di abad 19 hingga awal abad 20. Tidak perlu jauh-jauh ingin melihat langsung bagaimana istana di Eropa di era tersebut, karena ada Lawang Sewu, istana orang Eropa yang penuh nuansa kemegahan.

  1. Detil Mozaik Indah Di Lawang Sewu

Detil Mozaik Indah Di Lawang Sewu

Panel mosaik dalam ruangan yang berhias oleh kaca warna warni membentuk suatu lukisan indah, seperti halnya yang Anda bisa lihat dari kaca-kaca Gereja abad pertengahan. Lukisan tersebut menjadi bagian ciri khas orang Eropa untuk mengajarkan mereka yang masih buta huruf melalui bahasa gambar yang  tersusun rapih.

  1. Kaca Yang berkisah Tentang Penjajahan

Kaca Yang berkisah Tentang Penjajahan di lawang sewu

Kaca itu sendiri terbagi dalam empat panel besar yang menggambarkan pekerjaan para kolonialis dalam mengeruk hasil bumi Nusantara. Gambaran tentang bagaimana kekayaan alam kita diangkut oleh kereta, lori yang tersusun, lalu dikumpulkan menuju kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa untuk akhirnya diperdagangkan ke seluruh penjuru dunia.

  1. Ada Malaikat di Lawang Sewu

Ada Malaikat di Lawang Sewu

Penggambaran malaikat adalah bagian penting dari lukisan kaca era rennaisance Di panel kaca tengah-bawah Lawang Sewu berjajar malaikat keberkahan, yang memakai pakaian merah, membawa roda bersayap sebagai perlambang kereta api. Uniknya, ada pula gambar Dewi Sri, dewi kemakmuran yang dikenal di Jawa.

  1. Beredarnya Kisah Mistis Dan Horor

Beredarnya Kisah Mistis Dan Horor Di Lawang Sewu

Lawang Sewu sebagai gedung yang dipenuhi kisah horror. Perlu diceritakan kembali bahwa salah satu ruang ventilasi ada di ruang bawah tanah. Pada saat perjuangan kemerdekaan, ruang bawah tanah itu dijadikan penjara oleh penjajah Jepang. Sehingga konon banyak arwah bergentayangan di sana. Bahkan ada stasiun TV yang pernah mencoba menyelidiki keberadaan hantu di Lawang Sewu.

Selain yang telah disebutkan di atas, Anda bisa menemukan pernik lain yang menurut Anda unik di Lawang Sewu. Lihat untuk percaya, itulah peribahasan penting bagi Anda yang meragukan cerita yang ada tentang gedung ini.

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka

Lawang Sewu selalu menjadi pesona wisata Semarang, di mana banyak pengunjung mengantri mendatanginya, terutama di hari libur, apalagi jika ada progam TV atau media lain yang hendak meliputnya, baik media lokal atau internasional.  Sehingga gedung ini selalu ramai akan pengunjung yang ingin merasakan suasananya.

Bagi Anda yang ingin berkunjung, Anda tidak perlu menyiapkan uang banyak, harga tiket untuk mengunjungi lawang sewu dari pukul 07:00 WIB hingga pukul 21:00 WIB sangatlah terjangkau.  Tarif untuk orang dewasa Rp. 10.000, adapun bagi anak-anak/pelajar dikenakan Rp. 5.000.****